Foto: Design Tutsplus - Envato Tuts+

Empat perkara dari Ali bin Abi Thalib untuk Hasan

Malam 27 Ramadhan tahun 40 H, Ali bin Abi Thalib r.a. bangun untuk sahur. Saat itu ia berbicara kepada putranya, Hasan, “Malam ini, aku bermimpi bertemu Rasulullah. Aku mengadu kepada beliau, aku mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, betapa besar pembangkangan dan permusuhan yang kutemui dari umatmu.’

Lalu beliau berkata, ‘Berdoalah agar Allah menurunkan balasan atas mereka.’

BACA JUGA: Inilah Isi Pidato Ali bin Abi Thalib di Hari Wafatnya Khalifah Abu Bakar

Makaakuberucap, ‘Ya Allah, berikanlah sesuatu yang lebih baik untukku sebagai ganti mereka dan berikanlah untuk mereka pengganti diriku, sesuatu yang lebih buruk dari padaaku!'”

Selesai mengutaraka nmimpi itu kepada Hasan, Ibnu Nabbah, muazzin shalat, masuk menemuinya lalu mengajaknya shalat Ali bin Abi Thalib pun keluar dari rumahnya seraya berteriak membangunkan orang-orang untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat berikutnya, Ibnu Muljam datang menghadang dan menebas Ali dengan pedangnya.

Hingga sampai di pembaringan, Hasan tidak mampu membendung air matanya karena melihat sang ayah terluka.

Ali kemudian berkata kepada putranya itu, “Anakku, pesanku, jagalah empat perkara, dan empat perkara yang lain!”

“Apa perkara-perkara itu, wahai ayahanda?” tanya Hasan.

Ali r.a. menjawab, “Kekayaan yang tiada taranya adalah akal, kemiskinan yang paling buruk adalah kebodohan, kesepian yang paling baik adalah ujub, dan kemurahan yang teramat mulia ialah budi pekerti.”

“Apa empat perkara yang lain?” tanya Hasan lagi.

BACA JUGA: Kisah Singkat Hasan bin Ali bin Abi Thalib

“Pertama, jangan sekali-kali engkau berteman dengan orang tolol karena jika ia ingin menguntungkanmu, ternyata ia malah mencelakakanmu. Kedua, jangan bersahabat dengan penipu karena ia akan mendekatkan padamu sesuatu yang sebenarnya harus engkau jauhi, dan menjauhkan yang seharusnya kaudekati. Ketiga, jangan bergaul dengan si kikir karena ia akan menahan apa yang sangat kau butuhkan. Terakhir, jangan jadikan orang durhaka sebagai rekanmu karena ia akan menjualmu dengan harga yang sangat rendah!” []

Sumber: Wasiat2 Akhir Hayat dari Rasulullah/Karya: Zuhair Mahmud Al-Humawi/Penerbit:Gema press/2003

About Dini Koswarini

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline