Foto: All-free-download.com

Demikianlah Seharusnya Pengadilan Itu

Suatu ketika, Umar bin Khattab r.a.-yang saat itu menjadi amirul mukminin- membeli seekor kuda. Umar membawa kuda itu jauh dari penjual lalu menungganginya untuk mencobanya. Namun sayangnya, kuda itu mengalami luka di bagian kakinya.

BACA JUGA: Umar bin Khattab Tidak Bermaksud Mendemonstrasikan Karomahnya

Hati kecil Umar mengatakan bahwa ia harus mengembalikan kuda itu karena ia menyangka bahwa penjual kuda itu telah menipunya. Namun, si penjual kuda menolak menerima kembali kuda itu dari amirul mukminin.

Lalu, apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin? Apakah Umar menyuruh agar orang ini ditangkap? Atau ia mengajukan tuduhan palsu kepada orang ini?

Tidak sama sekali.

Umar malah menerima gugatan atas orang itu. Si penggugat bersikeras bahwa dialah yang harus memilih hakim untuk menangani perkara mereka. Dan benar, orang itu memilih Syuraih, hakim yang dikenal keadilannya. Umar pun harus duduk dikursi pesakitan sebagai tertuduh. Hakim mengeluarkan ke-putusannya bahwa Umar bersalah.

Hakim berkata, “Bayarlah kuda yang engkau beli atau kembalikan kuda itu dalam keadaan seperti semula (tanpa cedera).”

BACA JUGA: Berapa Gaji Umar bin Khattab?

Umar menanggapi putusan itu dengan perasaan gembira. Ia menatap Syuraih seraya berseru, “Demikianlah seharusnya pengadilan itu.” []

Sumber:Kisah-kisah teladan untuk keluarga: pengasah kecerdasan spiritual/Karya: Mulyanto/Penerbit: Gema Insani press

About Dini Koswarini

Check Also

Sekelumit Baju Besi Ali

Merekahlah senyum Ali, namun ia tak memiliki bukti atas pengakuan tergugatnya itu.

you're currently offline