Foto: Fotolia

Cahaya Para Rasul

Syarafuddin al-Bushairi merupakan seorang pujangga yang pernah bersyair yang isinya berkenaan dengan¬† cahaya Rasul, “Setiap mukjizat yang didatangkan para Rasul yang mulia, sejatinya bersambung dengan cahayanya. Dia adalah matahari keutamaan, sementara mereka sebagai bintang-bintangnya. Semua mereflesikan cahaya matahari itu kepada seluruh manusia disaat kegelapan malam.”

Al-Allamah Ibnu Marzuq mengatakan, “Sesungguhnya setiap mukjizat yang dibawa oleh seorang Rasul adalah bersambungan dengan cahaya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.”

BACA JUGA: Rasulullah SAW dan Ali Adalah Cahaya 14 Ribu Tahun Sebelum Penciptaan Adam

Alangkah tepatnya dalam syair tersebut dikatakan “Melainkan bersambung dengan cahayanya.”

Ungkapan ini memberi pengertian bahwa cahaya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam masih tetap ada pada dirinya dan tidak berkurang sedikit pun.

Seandainya dikatakan “Melainkan berasal dari cahayanya,” niscaya akan dipahami bahwa cahayanya itu telah terbagi kepada mereka dan tidak tersisa untuk dirinya sendiri. Setiap mukjizat yang dibawa oleh seorang rasul adalah pancaran dari cahaya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau merupakan matahari keutamaan, sementara mereka hanyalah bintang-bintangnya.

Bintang-bintang itu memperoleh cahaya dari matahari lalu memantulkannya kepada manusia di saat malam. Bintang-bintang itu tidak memancarkan cahaya sendiri melainkan berasal dari matahari. Ketika matahari terbenam, bintang-bintang itu terlihat memancarkan cahayanya.

Begitu pula para nabi. Sebelum lahirnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, mereka memancarkan cahaya keutamaannya. Maka, semua cahaya yang dipancarkan oleh para rasul, sejatinya berasal dari cahaya yang melimpah dari diri Nabi, tanpa mengurangi sedikit pun cahaya dirinya.

Cahaya yang paling pertama kali nampak adalah pada Nabi Adam as, ketika Allah telah menjadikannya sebagai khalifah dan mengajarkan kepadanya nama-nama seluruh benda dari penghimpun kalimat (jawami’ul kalim) yang telah diberikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Maka, tampaklah cahaya itu pada Adam berupa pengetahuan tentang nama-nama benda yang mampu mengalahkan para Malaikat yang pernah berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi itu oranq yanq akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.”

Kemudian para khalifah di muka bumi ini silih berganti hingga sampailah pada zaman kelahiran Nabi kita. Ketika lahir (baca: datang) beliau seperti matahari. Setiap cahaya para nabi terdapat di dalam cahayanya dan setiap mukjizat mereka termasuk dalam mukjizatnya. Semua risalah para rasul masuk ke dalam inti kenabiannya dan semua kenabian berada di bawah panji kerasulannya. Tidak ada satu mukjizat pun yang diberikan kepada seorang nabi sebelumnya melainkan Nabi kita Muhammad saw diberi mukjizat sepertinya.

BACA JUGA: Saat Nabi Adam Meminta Buah dari Surga

Nabi Adam as telah diberi suatu keistimewaan. Allah telah menciptakannya dengan Tangan-Nya. Junjungan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. pun telah dianugerahi keistimewaan sepertinya. Allah telah melapangkan dadanya serta menciptakan di dalam dadanya iman dan hikmah. la merupakan penciptaan kenabian sedangkan Adam penciptaan eksistensi.

Dari penciptaan Adam diciptakan Nabi kita di dalam sulbinya. Maka, Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam merupakan tujuan sedangkan Adam as. hanya sebagai perantara. Dan tujuan itu tentunya adalah lebih dahulu adanya daripada perantara.

Wallahu a’lam []

Sumber: 99 Fakta Menakjubkan dalam Al-Quran/Karya: Gayatri Ida Susanti/Penerbit: Mizania/2015

About Dini Koswarini

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline