Foto:iStock

Bukankah Ia Sudah Tak Berdaya dan Jasadnya Dimakan Ulat

Al-Muzanni meriwayatkan, dia berkata, “Aku memasuki tempat tinggal Asy Syafi’i, saat dia terbaring sakit yang disusul dengan kematiannya. Lalu aku bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu saat ini?”

Asy-Syafi’i menjawab, “Aku sudah lari dari dunia, berpisah dengan saudara-saudara, siap menemui keburukan amalku, meminum dari gelas harapan dan kembali kepada Allah. Aku tidak tahu apakah ruhku menuju surga, sehingga dapat mengucapkan selamat kepadanya, ataukah menuju neraka dan aku akan mengucapkan ucapan duka kepadanya.” Setelah itu dia melantunkan syair,

“Tatkala hatiku mengeras dan menyempit jalanku

aku pasrahkan sambil mengharapkan ampunan-Mu

kulihat betapa besar dosa-dosaku ini

namun ternyata ampunan-Mu lebih besar lagi

engkau senantiasa memaafkan dosa-dosa

murah hati dan senantiasa mulia.”

Maimun bin Mahran berkata, “Aku pergi ke sebuah kuburan bersama Umar bin Abdul Aziz. Tatkala dia melihat kuburan, maka dia menangis. Kemudian dia menghadap ke arahku dan berkata, “Hai Maimun, ini adalah kuburan nenek moyangku dari Bani Umayah, seakan-akan mereka tidak bergabung dengan kenikmatan dan kehidupan penghuni dunia. Tidakkah engkau melihat mereka kini terbaring tak berdaya, hancur dan dimakan ulat?”

Kemudian dia menangis, dan berkata lagi, “Demi Allah, aku tidak melihat seseorang yang lebih nikmat daripada orang-orang yang sudah berada di dalam kuburan ini dan dia terlindung dari siksa Allah.”

Diriwayatkan bahwa dua tahun setelah Ashim Al-Jahdari meninggal dunia, salah seorang keluarganya ada yang bermimpi bertemu dia.

“Bukankah engkau sudah meninggal dunia?” Tanya saudaranya.

“Begitulah,” jawab Ashim.

“Di mana engkau kini?”

“Demi Allah, aku saat ini berada di salah satu taman dari taman-taman surga,” jawab Ashim,” Aku dan beberapa rekanku berkumpul pada setiap malam Jum’at dan pagi harinya menemui Abu Bakar bin Abdullah Al-Muzanni, dan kami saling tukar-menukar informasi.”

“Apakah itu jasad kalian ataukah ruh kalian?”

Ashim menjawab, “Tidak sama sekali. Jasad itu bisa binasa. Ruh kamilah yang saling bertemu.’

“Apakah kalian mengetahui kami yang menziarahi (kubur) kalian?”

“Kami mengetahuinya pada malam Jum’at dan seluruh Jum’at serta hari Sabtu hingga matahari terbenam.”

“Mengapa seperti itu dan tidak terjadi pada hari-hari yang lain?”

“Mengingat kemuliaan dan keagungan hari Jum’at,” jawab Ashim. []

Sumber : Kitab Minhajul Qashidin, “Jalan Orang-Orang Yang Mendapat Petunjuk”/Penulis: Ibnu Qudamah/ Penerbit: Pustaka Al Kautsar

About Dini Koswarini

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline