Foto: Vecteezy

Bukankah Engkau yang Telah Membunuh Pamanku?

Wahsyi bin Harb adalah orang yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib ketika di medan Uhud. Ia merupakan seorang budak dari Hindun binti Uthbah.

Ketika perang Uhud Wahsyi mendapatkan janji berupa kebebasannya dari perbudakan apabila ia berhasil membunuh paman Rasulullah yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib. Wahsyi akhirnya berhasil membunuh Hamzah dan ia mendapatkan ganjarannya berupa kebebasan dari perbudakan. Kebebasannya tidak membuat hidupnya tenang, ia senantiasa dihantui rasa takut.

Pada peristiwa Fathu Makkah, Rasulullah mengumumkan 10 orang kafir Quraisy yang darahnya wajib dibunuh. Dari 10 orang tersebut salah satunya tercantun nama Wahsyi bin Harb.

Wahsyi semakin ketakutan, demi melindungi dirinya, ia pergi ke Tha’if. Namun, Wahsyi tidak dapat berbuat apa-apa. Penduduk Tha’if pun menyatakan keislamannya. Lalu Wahsyi melarikan diri ke Syam dan Yaman. Namun, rasa takutnya tak kunjung hilang. Saat itulah salah satu temannya memberi nasihat.

“Kemana engkau akan pergi, wahai Wahsyi? Pasukan Muslim tak terhentikan . datanglah kepada Rasulullah agar kau diampuni.”

Wahsyi tak punya pilihan lain, akhirnya ia megikuti saran temannya itu. Ia pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah dan mengucapakan syahadat di hadapan Rasulullah.

“Apakah engkau yang bernama Wahsyi?” tanya Rasulullah.

“Ya, aku Wahsyi, ya Rasulullah,’ jawab Wahsyi tanpa berani menatap muka Rasulullah.

“Bukankah engkau yang telah membunuh pamanku. Ceritakanlah padaku bagaimana engkau membunuhnya,’” kata Rasulullah.

Wahsyi menceritakan bagaimana ia membunuh Hamzah dan memanggil Hindun binti Utbah yang telah merobek dadanya dan memakan hatinya. Rasulullah mendengarnya dengan wajah tertunduk dan menangis.

“Pergilah Wahsyi. Jangan menampakkan wajahmu di depanku lagi mulai hari ini,” kata Rasulullah.

Wahsyi merasa sedih mendengarnya. Ia mengerti mengapa Rasulullah tidak mau melihatnya. Karena Rasulullah tidak ingin hatinya tersayat kembali apabila mengingat peristiwa pamannya yang wafat secara mengenaskan.

Pada masa khalifah Umar bin Khathab, muncul nabi palsu, bernama Musailamah al-Khadzdzab. Wahsyi berniat menebus dosa-dosanya dengan ikut berperang. Ia ingi membunuh Musailamah dalam medan perang. Untuk membunuh Musailamah ia gunakan tombak yang ketika itu ia gunakan untuk membunuh Hamzah.

Wahsyi bertekad, “Jika dulu aku membunuh manusia sebaik-baik pengikut Rasulullah, maka kini aku menumpas seburuk-buruk manusia yaitu Musailamah.” []

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline