Foto: Pixabay

Bukankah Anaknya Itu Adalah Belahan Jiwanya?

Setelah Perang Hawazin berakhir, sejumlah tawanan yang terdiri atas anak-anak dan para wanita dihadapkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan beliau memperhatikan mereka. Lalu, beliau dan para sahabat melihat seorang tawanan wanita tampak sibuk sendiri. la melangkah ke sana kemari mencari-cari putranya, belahan jiwanya.

la tampak terguncang, berteriak-teriak, dan bertingkah seperti orang gila. la datangi setiap anak kecil yang sedang disusui ibunya. la periksa wajah mereka satu per satu.

BACA JUGA: Membuat Satu Kalimat Perbandingan Bersama Rasulullah

la berharap putranya ada di sisinya sehingga ia bisa memeluk dan menciuminya sepuas-puasnya, meskipun untuk itu ia harus korbankan nyawanya. Beberapa saat kemudian, sang ibu menemukan putranya. Seketika, air matanya mengering, akal sehatnya kembali lagi. la langsung meraih dan mendekapkannya ke dadanya.

Tangisan anak itu membuat kasih sayangnya meluap-luap. Sang anak dipeluk dan dicium dengan lembut, lalu dirapatkan ke dadanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang sangat penyayang dan pengasih melihatnya dengan tatapan penuh kasih. Beliau melihat sang ibu sangat letih. Begitu lama ia menanggung kerinduan yang sangat dalam kepada putranya. Derita ibu dan anak itu sungguh teramat besar.

Para sahabat yang duduk bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun melihat tingkah ibu dan anak itu. Setelah si ibu terlihat tenang, Rasulullah berpaling kepada para sahabat dan bertanya, “Menurut kalian, apakah ibu itu akan rela jika anaknya dilemparkan ke dalam kobaran api?”

Para sahabat terkejut mendengar pertanyaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana mungkin si ibu melempar anaknya ke dalam api? Bukankah anaknya itu adalah belahan jiwanya? Bagaimana bisa ia lemparkan anaknya ke dalam siksa?

Mereka melihat ibu itu sangat mengasihi putranya sehingga mengabaikan penderitaan dirinya sendiri. la menciumi, memeluk, dan membasahi wajah anaknya dengan cucuran air matanya. Bagaimana mungkin ia melemparkan anaknya ke dalam api, padahal ia adalah ibu yang penuh kasih sayang?

BACA JUGA: Ini yang Menyebabkan Tangisan Rasulullah Terdengar Lagi

Mereka menjawab, “Tentu saja tidak, wahai Rasulullah. Demi Allah, ibu itu pasti tidak akan rela. la tidak akan pernah bisa melakukannya.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Nah, kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya lebih besar dibanding kasih sayang ibu itu kepada anaknya.” []

Sumber: 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah Saw./Karya: Fuad Abdurahman/Penerbit: Noura Books/2015

About Dini Koswarini

Check Also

Kemudian Celakalah Dia! Bagaimanakah Dia Menetapkan?

Maka celakalah dia! bagaimana dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! bagaimanakah dia menetapkan?

you're currently offline