Foto: Farid Wajdi

Bahagianya Umar Bertemu dengan Sosok seperti Syuraih

Suatu kali, Khalifah Umar bin Khattab berjalan kaki pulang dari Makkah ke Madinah. Di tengah perjalanan, lelaki bergelar Alfaruq itu mendapati seorang Yahudi berjualan kuda. Barang dagangannya ter-sisa satu. Umar kemudian membeli hewan itu. Dalam perjalan ke Madinah, tiba-tiba kuda yang baru dibeli itu tak bisa lari kencang bahkan tertatih-tatih.

Ternyata salah satu kaki kuda itu sakit hingga jalannya pincang. Umar jengkel dan merasa dikibuli. Dengan hati amat dongkol, Umar kembali menemui si Yahudi sambil menuntun kudanya. Kepada si Yahudi itu Umar langsung komplain dan ingin mengembalikan kudanya.

BACA JUGA: Umar bin Khattab Menjadi Saksi Persahabatan yang Tulus di Bukit Uhud

Tetapi, si Yahudi tak mau kompromi. Baginya, barang yang sudah dibeli tak bisa dikembalikan. Karena sama-sama bertahan, keduanya sepakat membawa kasus ini ke meja hijau. Kebetulan, hakim setempat adalah Syuraih Ibn Alha-rits Alkindi.

Banyak orang ingin menyaksikan pengadilan ini karena salah satu yang pihak beperkara adalah pemimpin tertinggi mereka, Amirul Mukminin. Tentu saja, antara Syuraih dan Umar sudah saling kenal, dan inilah yang membuat si Yahudi kecil hati.

Selanjutnya, baik Umar maupun penjual kuda menceritakan masalah yang mereka perkarakan itu, sementara Syuraih mendengarkannya dengan saksama. Tetapi, apa yang diputuskan hakim itu sungguh di luar dugaan. Syuraih ternyata justru memenangkan si Yahudi.

Umar tidak bisa berbuat apa-apa ketika Syuraih berkata, “Wahai Amirul Mukminin, jikalau berkeras mengembalikan kuda itu, Anda harus mengembalikannya dalam keadaan tidak cacat. Sebab, seperti itulah keadaannya ketika Anda membeli. Itu pun dengan catatan jika penjual kuda ini mau menerima pengembalian tersebut. Sebab, sejatinya Anda tidak bisa komplain, dengan alasan apa pun, ketika Anda sudah berpisah dengan Yahudi penjual kuda ini. Bukankah Rasul saw mengajarkan bahwa khiyar hanya bisa dilakukan jika antara penjual dan pembeli belum berpisah (ma lam yatafarraqaa)?”

BACA JUGA: Nasihat dari Syuraih Menikahlah dengan Seorang Wanita Bani Tamim

Umarakhirnya, Umarpulang ke Madinahdenganmenuntunkudapincang. Meskidemikian, dia sangatberbahagiabisamenemukansosoksepertiSyuraih, hakim yang bisamemutuskanperkaradenganadil, tidakpedulidengan status sosial orang yang mintakeadilankepadanya. []

Sumber: Pahala itu mudah /Karya: Siti Nurhayati dkk/Penerbit: Republika/2005

About Dini Koswarini

Check Also

Sekelumit Baju Besi Ali

Merekahlah senyum Ali, namun ia tak memiliki bukti atas pengakuan tergugatnya itu.

you're currently offline