Foto: wallpapers.99px.ru

Antara lman dan Bantuan Non-Muslim

Madinah, 2 Hijriah. Pasukan kaum musyrik Quraisy yang berkekuatan sekitar 1.000 tentara, 300 ekor kuda, dan 700 ekor unta di bawah pimpinan Abu Jahal—yang dibantu sembilan pemuka Quraisy yang bertanggung jawab atas keperluan seluruh anggota pasukan—sedang menuju Madinah dengan tujuan untuk menghancurkan masyarakat Muslim yang baru kuncup dan berkembang.

Begitu mendengar kabar tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun berangkat dari Madinah menuju jalur utama menuju Makkah, disertai pasukan kaum Muslim yang hanya terdiri dari 314 orang (83 asal Makkah dan 231 orang Anshar—yakni 61 orang dari suku Aus dan 170 lainnya dari suku Khazraj), dua ekor kuda, dan 70 ekor unta.

BACA JUGA: Kisah Rabiah ar-Rayi`, Putera Prajurit Perang Fii Sabilillah (Bagian 1)

Beliau sendiri naik seekor unta bersama `Ali bin Abu Thalib dan Martsad bin Abu Martsad Al-Ghabawi. Ketika iring-iringan pasukan kaum Muslim itu sampai di Harrah Al-Wabarrah, seorang pria yang terkenal pemberani memohon izin untuk menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tujuan untuk ikut bergabung dengan beliau.

Betapa gembira kaum Muslim mendengar maksud orang itu. Mereka pun segera mengantarkannya kepada beliau.

Setelah berbagi sapa dengan beliau, orang itu berkata, “Wahai Muhammad! Saya datang untuk mengikutimu dan memenangkan perang di pihakmu!”

Mendengar pernyataan yang menggembirakan tersebut, sejenak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diam merenung.

Dan, beberapa saat kemudian, beliau bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”

“Tidak!” jawab orang itu.

“Kembalilah engkau, karena aku tidak memerlukan bantuan orang musyrik,” ucap beliau.

Orang itu pun memohon diri dan berlalu. Kemudian, ketika iring-iringan pasukan di bawah pimpinan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam itu sampai di dekat sebuah mata air, orang itu muncul lagi dan menemui beliau dengan tujuan yang sama seperti sebelumnya.

Beliau pun bertanya kepada orang itu dengan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan sebelumnya. Begitu mendengar orang itu memberikan jawaban yang sama dengan jawabannya sebelumnya.

Beliau pun berkata kepadanya, “Kembalilah engkau, karena aku tidak memerlukan bantuan orang musyrik.”

Orang itu pun memohon diri dan berlalu. Kemudian, ketika iring-iringan pasukan kaum Muslim tiba di Al-Baidhat, orang itu muncul kembali dan menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau pun mengajukan kepadanya pertanyaan sebagaimana pertanyaan beliau sebelumnya, “Apakah engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”

“Ya, wahai Rasul!” jawab orang itu penuh semangat.

BACA JUGA: Dzil Jausyan, Berjanji Masuk Islam Apabila Nabi Berhasil Menaklukkan Kota Makkah

“Kalau begitu, engkau boleh menyertai kami ke medan pertempuran,” jawab beliau gembira.

Pria itu pun bergabung dengan pasukan Kaum Muslim lainnya dengan perasaan yang jauh lebih gembira dari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam alami saat itu. []

Sumber: Mutiara Akhlak Rasulullah S.A.W.: 100 Kisah Teladan tentang Iman, Takwa, Sabar, Syukur, Ridha, Tawakal,Ikhlas, Jujur, Doa, dan Tobat/Karya: Ahmad Rofi Usmani/Penerbit: Mizania/2006

About Dini Koswarini

Check Also

Karena ini Rasulullah Menangis

Akhirnya mereka menunjuk Khalid bin Al-Walid. Yang mana setelah mengambil bendera, dia bertempur dengan hebat dan gagah berani.

you're currently offline