Foto: Vecteezy

Al-Hujuraat Ayat 13 dalam Pemerintahan Umar bin Khattab (Bagian 2 Habis)

Umar bin Khattab pun menyambut positif maksud kedatangannya itu seraya berkata, “Insya Allah saya juga akan melaksakan ibadah haji pula tahun ini. Dan jika tidak keberatan, bagaimana jika kita berangkat bersama-sama ke Kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji tersebut.”

Akhirnya Khalifah Umar pun ikut serta bersama rombongan Raja Al-Ghossaani menuju ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Sesampainya di Kota Makkah, mereka pun melaksanakan thawaf quduum sebagai tanda kedatangan mereka di Baitullah Ka’bah. Sementara itu banyak pula kaum muslimin yang melaksanakan thawaf di sekeliling Ka’bah dengan khusyu dan khidmat.

BACA JUGA: Al-Hujuraat Ayat 13 dalam Pemerintahan Umar bin Khattab (Bagian 1)

Ketika Jablah bin Ayham Al-Ghossaani sedang melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah, tiba-tiba kain ihramnya tanpa disadari terinjak oleh kaki seorang lelaki dari Bani Fazaroh, hingga terlepas dari tubuhnya. Betapa terkejut dan malunya Jablah dengan hal itu. Lalu dengan perasaaan kesal, ia pukul muka lelaki tersebut dengan tangannya hingga berdarah.

Akhirnya lelaki dari Bani Fazaroh itu tidak menerima perlakuan Jablah Al-Ghossaani terhadapnya karena ia melakukan hal itu tidak dengan sengaja. Kemudian ia datang dan mengadu kepada Khalifah Umar bin Khaththab tentang perlakuan Raja Ghossaan itu terhadapnya.

Ternyata Umar memang seorang khalifah yang sangat arif dan bijaksana serta memperhatikan pengaduan rakyat kedl dan keluhan umatnya. Maka, ia pun mendengarkan semua pengaduannya tersebut serta mengakomodasikan untuk dicarikan jalan keluar yang terbaik baginya. Setelah itu, ia mengutus seseorang untuk memanggil Jablah bin Ayham Al-Ghossaani agar menghadapnya.

“Hai Jablah, benarkah Anda telah memukul seorang lelaki dari Bani Fazaroh ketika ia sedang thawaf di sekeliling Ka’bah?” tanya khalifah Umar bin Khaththab kepada Jablah Al-Ghossaani.

Dengan angkuh Jablah Al-Ghossaani menjawab, “Benar, hai Amirul Mukminin. Memang benar saya telah memukul hidung lelaki itu karena ia dengan sengaja telah menginjak kain ihram saya, hingga akhirnya terlepas dari tubuh saya. Kalau seandainya saja bukan karena kemuliaan Ka’bah Baitullah, sudah saya tebas batang lehernya!”

Lalu Umar bin Khaththab berkata, “Baiklah, karena Anda telah melakukan perbuatan yang menyakitkan orang lain, maka sebaiknya meminta maaf kepadanya, dan kalau tidak, saya akan memerintahkan kepadanya untuk menuntut balas atas perbuatan Anda tersebut. Karena bagaimanapun, Anda tidak boleh berbuat sewenang-wenang terhadap sesama muslim!”

Jablah Al-Ghossaani terkejut dan balik bertanya, “Apa yang akan Anda lakukan terhadap saya, hai Amirul Mukminin?”

Umar bin Khaththab menjawab, “Saya akan menyuruh lelaki dari Bani Fazaroh yang pernah Anda cederai untuk memukul hidung anda.”

Betapa terkejutnya Jablah Al-Ghossaani mendengar ucapan Khalifah Umar bin Khattab itu seraya bertanya, “Ya Amirul Mukminin, bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Anda sendiri telah mengetahui, bahwa saya ini adalah seorang pembesar dari negeri Syam, sedangkan lelaki itu hanyalah rakyat jelata.”

Dengan tegas Khalifah Umar bin Khaththab berkata kepadanya, “Ketahuilah olehmu hai Jablah A1-Ghossaani, sesungguhnya Islam itu telah memersatukan Anda sebagai seorang raja dan pembesar suatu kaum dengan lelaki tersebut yang hanya rakyat jelata. Sebenarnya antara Anda dengannya tidak ada keistimewaan apa-apa, kecuali keimanan dan ketakwaan.”

Namun, Jablah Al-Ghossaani menyambutnya dengan jawaban yang tidak menyenangkan, “Saya mengira, bahwa saya akan menjadi lebih mulia dan dihormati setelah saya memeluk agama Islam. Akan tetapi, pada kenyataannya saya malah lebih diabaikan dari sebelumnya.”

Kemudian Khalifah Umar bin Khaththab berkata kepadanya, “Sudahlah, Anda jangan banyak berkomentar! Kalau Anda tetap bersikeras untuk tidak meminta maaf kepada lelaki itu, maka saya akan suruh dia untuk menuntut balas kepada Anda.”

Tetapi, Jablah bin Ayham Al-Ghossaani tetap bersikeras untuk tidak mau meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya ia berkata, “Kalau Amirul Mukminin tetap memaksa saya untuk meminta maaf kepadanya, maka saya akan pindah kepada agama Nasrani.”

Lalu Khalifah Umar bin Khaththab menjawab, “Kalau anda berpindah ke agama Nasrani, maka dengan sangat terpaksa sekali saya akan tebas batang leher Anda karena sebelumnya Anda telah mengikrarkan dengan suka hati un-tuk masuk ke dalam agama Islam. Dan seandainya sekarang Anda akan berpindah agama, maka saya akan memerangi Anda.”

Ketika melihat keseriusan dan ketegasan sikap Khalifah Umar tersebut, Jablah bin Ayham Al-Ghossaani merasa takut dan ciut juga hatinya.

Lalu ia berpikir sejenak dan berkata, “Baiklah. Akan saya pikirkan terlebih dahulu hal ini secara masak-masak malam ini.”

Sebenarnya pada saat itu sudah berkumpul para pengawal Jablah Al-Ghossaani dan beberapa orang lelaki dari Bani Fazaroh di luar rumah Khalifah Umar bin Khaththab yang masing-masing siap membela dan mempertahankan kehormatannya, hingga dikhawatirkan akan terjadi per-tumpahan darah antarkedua kelompok tersebut.

Setelah mendengar ucapan Jablah Al-Ghossaani itu, maka Umar pun menyuruh mereka untuk membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu ketika malam telah menyelimuti bumi dan para penduduk Kota Makkah telah terlelap dalam tidurnya, Jablah Al-Ghossaani beserta beberapa orang pengawalnya mengendap-endap untuk dapat melarikan diri menuju ke negeri Syam. Dan ketika azan shubuh telah dikumandangkan, ternyata Jablah Al-Ghossaani dan rombongannya telah melarikan diri dari Kota Makkah menuju ke negeri Syam.

Sesampainya di negeri Syam, Jablah Al-Ghossaani beserta lima ratus orang pengikutnya pergi ke kota Konstantinopel (sekarang kita mengenalnya dengan sebutan kota Istambul) untuk menemui Kaisar Heraclius. Di hadapan Kaisar Romawi tersebut, Jablah Al-Ghossaani beserta para pengikutnya menyatakan masuk ke dalam agama Nasrani. Betapa gembiranya kaisar Heradius atas pernyataan Jablah Al-Ghossaani itu dan ia menduga, bahwa hal ini merupakan suatu kemenangan besar baginya terhadap kaum muslimin.

BACA JUGA: Rasulullah: Allah Tidak Memandang kepada Pangkat-pangkatmu

Akan tetapi, sebenarnya dugaannya itu meleset. Karena sesungguhnya Jablah Al-Ghossaani itu adalah seorang pembesar dari negeri Syam yang angkuh dan sombong terhadap rakyat jelata. Dengan demikian kita dapat mclihat dengan jelas betapa tegasnya Khalifah Umar bin Khattab dalam menegakkan keadilan di kalangan kaum muslimin meskipun hal itu terjadi pada diri seorang pembesar negeri Syam.

Maka bagaimanapun, Khalifah Umar bin Khattab selalu berusaha untuk menerapkan konsep keadilan terhadap sesama makhluk Allah sebagaimana tertera dalam Al quran, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari lelaki dan perempuan serta Kami jadikan pula kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kaniu dapat saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujuraat: 13) []

Sumber:Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam/Karya: Nasiruddin S.Ag, MM/Penerbit: Republika

About Dini Koswarini

Check Also

Sekelumit Baju Besi Ali

Merekahlah senyum Ali, namun ia tak memiliki bukti atas pengakuan tergugatnya itu.

you're currently offline