Foto: Fotolia

Ghibah dan Amanah

Rasulullah saw. pernah bertanya para sahabat, “Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat pun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau saw. bersabda, ‘Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang tidak dia sukai.” (HR. Musilm)

Sengaja atau tidak, pembicaraan yang mungkin terasa ringan ini sangat berat di sisi Allah. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat: 12)

Begitu pun ketika ada paksaan atau ancaman. Rahasia mesti dibela habis-habisan. Asma binti Abu Bakar siap mengorbankan nyawa sekali pun demi rahasia keberangkatan hijrah Rasulullah saw. dan ayahnya. Karena bungkamnya Asma, tokoh Quraisy tak menyangka kalau Rasul dan Abu Bakar berputar ke arah selatan Mekah. Bukan langsung ke utara menuju Madinah.

Terjaganya amanah rahasia berbanding lurus dengan kokohnya iman seseorang. Ada rasa kebersamaan dengan Allah atau ma’iyatullah. Boleh jadi, si pemilik rahasia tidak tahu kalau rahasianya sedang diungkap. Tapi, Allah selalu tahu seperti apa pun keadaan hamba-Nya.

Rahasia akan tetap aman di tangan orang yang beriman. Ketika ada rangsangan untuk mengungkapkan: bisa karena kesal, dendam; rahasia tetap terjaga karena kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Akan selalu muncul pemahaman, Allah mengganjarkan kebaikan buat mereka yang teguh menjaga amanah. []

About Admin 1

Check Also

Manisnya Menggigit Iman

Iman yang mantap disertai keteguhan hati bisa disejajarkan dengan sebuah gunung yang tidak bisa diusik.

you're currently offline